Halima Yang Terlupakan
29 01 2008
07 : 36
Hiruk pikuk wafatnya Sang Jenderal Besar, Soeharto, belum juga mereda.Sanjungan terhadap kebesaran jasa-jasanya bak cendawan di musim hujan,merebak serentak ke permukaaan. Iyah...., Bapak Pembangunan itu memangtelah berjasa besar melakukan pembangunan berarti di negeri ini. Halitu, tidak mungkin bisa dinafikan lagi. Namun, segelintir suara yangmenginginkan penegakan hukum terhadap beliau pun tentu tidak bolehdisepelekan begitu saja. Karena dosa-nya pun ada. Dan itu sepatutnyadiselesaikan melalui proses hukum yang ada.
Tatkala seluruhnegeri berkabung, ada secuil berita menarik yang lebih bersifatkonsumsi infotainment. Si Halimah, istri Bambang Trihatmojo yang barusaja diceraikan itu pun ikut melayat dan berbelasungkawa atas kematian'mantan' mertuanya. Wanita yang notabene sudah berumur ini memang masihtetap kelihatan cantik. Bisa dibayangkan, betapa cantiknya beliau waktumasih muda-nya. Dan konon, Halimah ini merupakan salah seorang mantutersayang keluarga Cendana. Maka tatkala si Mayang, istri muda Bambangikut menampakkan muka menjenguk sang mertua yang sudah tak bernyawaitu, jadi bulan-bulanan di lingkungan Cendana, bahkan harus bercucuranairmata diusir oleh saudara-saudara suaminya.*Pencinta Infotainmentmode on*
Disamping breaking news tentang wafatnya mantanpenguasa negeri ini beserta kehebohan internal keluarga beliau di atas,ternyata ada Halima* lain yang tak kalah menakutkan yang sangat kurangpamor dari sisi pemberitaan media dan perhatian masyarakat. DialahH5N1, virus flu burung yang sudah merenggut ratusan nyawa manusia itu.H5N1-lah yang saya 'gelari', Halima* yang terlupakan, sebagaimana judultulisan ini.
Virus Flu burung, mulai menampakkan diri kepermukaan sejak tahun 2003. Dan pada masa-masa awalnya, Vietnamtercatat sebagai negara terparah masalah penyebaran Flu burung ini.Namun kelihaian dan keseriusan pemerintahnya, berhasil menekan drastissemakin menjalarnya virus yang sangat menakutkan ini.
LainVietnam, lain juga dengan gerak langkah pemerintah negeri ini.Terbukti, sejak tahun 2005, Indonesia pun menjadi ladangnya penyebaranHalima* ini. Dan ketidak mampuan me-manage wabah penyakit H5N1 ini,membuahkan 'hasil' bahwa Flu burung sebetulnya sudah menjadi "setan"menakutkan yang mungkin sudah menjalar kemana-mana di masyarakat kita.Seperti kemarin 28 Januari 2008, tercatat 2 orang jiwanya melayangdirenggut oleh Halima* ini. Departemen Kesehatan mengumumkan bahwaseorang bocah kecil di Depok berusia 9 tahun, meninggal karena virusini. Di hari yang sama, seorang wanita berusia 23 tahun pun menemuiajal karena H5N1. Dalam sehari saja sudah tercatat 2 orang yangmenghembuskan nafas terakhirnya di ujung seuah Halima*.
Menurutcatatan WHO, sejak tahun 2003, jumlah kematian yang diakibatkan olehvirus flu burung sudah melebihi 220 orang. Dan yang paling menyedihkan,hampir 50% dari angka itu dipasok oleh Negeri ini. Tak kurang dari 100orang dari 220 orang itu berasal dari Indonesia. Sementara Vietnam yangawal-awal penyebaran virus ini termasuk sangat-sangat parah, hinggadetik ini 'baru' tertatat 48 orang yang meninggal.
Sekali lagi,kembali kita mencatat rekor dalam sejarah, sebagai negara dengan angkakematian terbanyak yang diakibatkan oleh Flu Burung. Namun seakan tidakada yang menaruh peduli terhadap hal ini. Padahal, angka kematian diatas adalah angka yang diumumkan oleh pemerintah. Tidak tertutupkemungkinan, bahwa disamping angka resmi itu, akan ada angka tidakresmi yang tidak terlacak, jauh melebihi dari angka tersebut. Bukankahsangat susah mencari data benar-benar valid di negeri ini? Artinya,bisa jadi virus mematikan itu sudah menjalar di lingkungan sekitarkita, yang pada saatnya akan ikut merenggut nyawa orang-orang terdekatkita, bahkan diri kita sendiri. Dan tatkala negara yang harusnyamemberikan perlindungan kepada kita terhadap momok seperti itu lebihdisibukkan oleh urusan-urusan lain, siapa lagi yang bisa melindungidiri kecuali diri sendiri?
Intinya,biarkanlah media lebih fokus kepada Halimah versi Cendana dan hal-halyang berkaitan dengan keluarga sang Jenderal besar itu, namun janganlupa, ada Halima* lain yang sangat perlu diwaspadai. Dan itulah Fluburung H5N1 (Halima* N l). (af@jkt 29 Januari 2008)
Tatkala seluruhnegeri berkabung, ada secuil berita menarik yang lebih bersifatkonsumsi infotainment. Si Halimah, istri Bambang Trihatmojo yang barusaja diceraikan itu pun ikut melayat dan berbelasungkawa atas kematian'mantan' mertuanya. Wanita yang notabene sudah berumur ini memang masihtetap kelihatan cantik. Bisa dibayangkan, betapa cantiknya beliau waktumasih muda-nya. Dan konon, Halimah ini merupakan salah seorang mantutersayang keluarga Cendana. Maka tatkala si Mayang, istri muda Bambangikut menampakkan muka menjenguk sang mertua yang sudah tak bernyawaitu, jadi bulan-bulanan di lingkungan Cendana, bahkan harus bercucuranairmata diusir oleh saudara-saudara suaminya.*Pencinta Infotainmentmode on*
Disamping breaking news tentang wafatnya mantanpenguasa negeri ini beserta kehebohan internal keluarga beliau di atas,ternyata ada Halima* lain yang tak kalah menakutkan yang sangat kurangpamor dari sisi pemberitaan media dan perhatian masyarakat. DialahH5N1, virus flu burung yang sudah merenggut ratusan nyawa manusia itu.H5N1-lah yang saya 'gelari', Halima* yang terlupakan, sebagaimana judultulisan ini.
Virus Flu burung, mulai menampakkan diri kepermukaan sejak tahun 2003. Dan pada masa-masa awalnya, Vietnamtercatat sebagai negara terparah masalah penyebaran Flu burung ini.Namun kelihaian dan keseriusan pemerintahnya, berhasil menekan drastissemakin menjalarnya virus yang sangat menakutkan ini.
LainVietnam, lain juga dengan gerak langkah pemerintah negeri ini.Terbukti, sejak tahun 2005, Indonesia pun menjadi ladangnya penyebaranHalima* ini. Dan ketidak mampuan me-manage wabah penyakit H5N1 ini,membuahkan 'hasil' bahwa Flu burung sebetulnya sudah menjadi "setan"menakutkan yang mungkin sudah menjalar kemana-mana di masyarakat kita.Seperti kemarin 28 Januari 2008, tercatat 2 orang jiwanya melayangdirenggut oleh Halima* ini. Departemen Kesehatan mengumumkan bahwaseorang bocah kecil di Depok berusia 9 tahun, meninggal karena virusini. Di hari yang sama, seorang wanita berusia 23 tahun pun menemuiajal karena H5N1. Dalam sehari saja sudah tercatat 2 orang yangmenghembuskan nafas terakhirnya di ujung seuah Halima*.
Menurutcatatan WHO, sejak tahun 2003, jumlah kematian yang diakibatkan olehvirus flu burung sudah melebihi 220 orang. Dan yang paling menyedihkan,hampir 50% dari angka itu dipasok oleh Negeri ini. Tak kurang dari 100orang dari 220 orang itu berasal dari Indonesia. Sementara Vietnam yangawal-awal penyebaran virus ini termasuk sangat-sangat parah, hinggadetik ini 'baru' tertatat 48 orang yang meninggal.
Sekali lagi,kembali kita mencatat rekor dalam sejarah, sebagai negara dengan angkakematian terbanyak yang diakibatkan oleh Flu Burung. Namun seakan tidakada yang menaruh peduli terhadap hal ini. Padahal, angka kematian diatas adalah angka yang diumumkan oleh pemerintah. Tidak tertutupkemungkinan, bahwa disamping angka resmi itu, akan ada angka tidakresmi yang tidak terlacak, jauh melebihi dari angka tersebut. Bukankahsangat susah mencari data benar-benar valid di negeri ini? Artinya,bisa jadi virus mematikan itu sudah menjalar di lingkungan sekitarkita, yang pada saatnya akan ikut merenggut nyawa orang-orang terdekatkita, bahkan diri kita sendiri. Dan tatkala negara yang harusnyamemberikan perlindungan kepada kita terhadap momok seperti itu lebihdisibukkan oleh urusan-urusan lain, siapa lagi yang bisa melindungidiri kecuali diri sendiri?
Intinya,biarkanlah media lebih fokus kepada Halimah versi Cendana dan hal-halyang berkaitan dengan keluarga sang Jenderal besar itu, namun janganlupa, ada Halima* lain yang sangat perlu diwaspadai. Dan itulah Fluburung H5N1 (Halima* N l). (af@jkt 29 Januari 2008)
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/44_827_2008_01
Komentar