Memotivasi: Libatkan Pikiran & Hati
14 05 2008
05 : 47
Blog ini perlu saya kasih sub judul "Antara akal dan budi.....". Iyah..., antara akal dan budi sesuatu yang harus diselaraskan, diseimbangkan.Ketimpangan di salah satu sisi, tidak akan menghasilkan output yang optimal. Karena memang manusia dibentuk dari dua unsur utama itu.
Memotivasi orang itu, susah-susah gampang. Berbagai buku sebagai pedoman bertebaran dimana. Isinya, hampir tidak ada yang bisa disangkal. Yang masalah, ketika diterapkan di lapangan, ternyata ke-kaya-an teori kadang tidak cukup untuk mempermulus sebuah usaha memotivasi orang lain, bahkan diri sendiri.
Tabiat manusia pun bermacam-macam. Bila anda sebagai atasan, tabiat bawahan pasti beraneka ragam juga. Demikian juga bila anda berlaku sebagai bawahan, tiap atasan anda punya ciri khas kepribadian tersendiri. Tentu dari situ sudah bisa dipastikan bahwa cara menghadapi kepribadian yang bermacam-macam itu juga tidak bisa dengan cara yang sama. Intinya, menghadapi orang lain tidak bisa mengikuti rumus satu tambah satu sama dengan dua. Unsur Fuzzy tidak luput ikut berperan, dan itulah yang menyebabkannya jadi rumit. Demikian juga dalam hal memotivasi orang lain.
Dalam sebuah kesempatan, secara tak langsung saya pernah menyarankan seorang teman yang menjadi pimpinan sebuah organisasi. "Jangan lupa berterima kasih", demikian kira-kira kata-kata saya pada beliau. Karena kepuasan seseorang, bukan cuman diukur dari segi materi. Walau dalam dunia nyata, mata kita cenderung tertuju kepada unsur yang satu itu. Tapi, dibalik itu ada unsur kepuasan bathin yang tidak kalah besar pengaruhnya dari sekedar materi untuk sebuah sumber motivasi. Salah satunya, mengucapkan sesuatu sebagai ungkapan apresiasi, penghargaan akan hasil kerja orang lain.
Rupert Murdoch, Seorang pengusaha Australia pernah menekankan agar melibatkan pikiran dan hati orang lain untuk memotivasinya.
Pikiran
Membiarkan orang lain mengungkapkan pendapatnya sendiri, juga bisa menjadi bagian dari sebuah penghargaan kepada yang bersangkutan. Sesalah apapun, dengarkan orang lain berbicara, mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Toh dengan itu sudah merupakan alat perangsang mereka untuk berpikir. Sementara otak manusia sendiri akan makin jalan bila selalu digunakan untuk berpikir. Jangan heran, makin rajin orang belajar, makin terasa tambah banyak hal yang tidak diketahui karena makin banyak yang diketahui.
Sebuah aksi yang dimotori oleh pikiran sendiri, jauh lebih enteng dilaksanakan dibanding hasil pemikiran orang lain. Bila hasil sebuah aksi dari pemikiran sendiri itu ternyata negatif, tentu akan lebih mengundang tanda tanya. Akibatnya akan semakin termotivasi untuk berpikir, lalu termotivasi untuk mengimplementasikan hasil pikiran. Demikianlah seterusnya, membentuk sebuah lingkaran positif.
Bilamana hasil pemikiran yang bersangkutan ternyata tepat sesuai harapan, akan lebih meyakinkan kemampuan diri sendiri. Hal ini juga bisa berfungsi sebagai katalis untuk memacu otak untuk berpikir kembali, menghasilkan ide-ide baru.
Hati
Ucapan terima kasih seorang atasan terhadap hasil kerja seorang bawahan, merupakan salah satu unsur pelibatan hati. Dan ini juga sangat penting. Bahkan ujung-ujung kepuasan itu sendiri, lebih kepada kepuasan bathin, dan bukan pada kepuasan lahir yang berwujud materi. Jadi, materi sendiri hanya sebagai alat.
Hanya saja, justru unsur paling rumit dari sebuah usaha memotivasi ini, justru ada pada pelibatan hati. Karena gimana pun juga, tabiat orang itu berbeda-beda, sehingga penanganan tiap orang otomatis juga pasti berbeda.
Untuk melibatkan perasaan orang lain, Murdoch menyarankan agar menggunakan ide-ide produktif dan kegembiraan. Masih sedikit ngambang memang, tapi setidaknya pokok dari ide Murdoch ini mungkin bisa diiyakan oleh semua orang, memotivasi orang harus melibatkan pikiran dan hati.
Memotivasi orang itu, susah-susah gampang. Berbagai buku sebagai pedoman bertebaran dimana. Isinya, hampir tidak ada yang bisa disangkal. Yang masalah, ketika diterapkan di lapangan, ternyata ke-kaya-an teori kadang tidak cukup untuk mempermulus sebuah usaha memotivasi orang lain, bahkan diri sendiri.
Tabiat manusia pun bermacam-macam. Bila anda sebagai atasan, tabiat bawahan pasti beraneka ragam juga. Demikian juga bila anda berlaku sebagai bawahan, tiap atasan anda punya ciri khas kepribadian tersendiri. Tentu dari situ sudah bisa dipastikan bahwa cara menghadapi kepribadian yang bermacam-macam itu juga tidak bisa dengan cara yang sama. Intinya, menghadapi orang lain tidak bisa mengikuti rumus satu tambah satu sama dengan dua. Unsur Fuzzy tidak luput ikut berperan, dan itulah yang menyebabkannya jadi rumit. Demikian juga dalam hal memotivasi orang lain.
Dalam sebuah kesempatan, secara tak langsung saya pernah menyarankan seorang teman yang menjadi pimpinan sebuah organisasi. "Jangan lupa berterima kasih", demikian kira-kira kata-kata saya pada beliau. Karena kepuasan seseorang, bukan cuman diukur dari segi materi. Walau dalam dunia nyata, mata kita cenderung tertuju kepada unsur yang satu itu. Tapi, dibalik itu ada unsur kepuasan bathin yang tidak kalah besar pengaruhnya dari sekedar materi untuk sebuah sumber motivasi. Salah satunya, mengucapkan sesuatu sebagai ungkapan apresiasi, penghargaan akan hasil kerja orang lain.
Rupert Murdoch, Seorang pengusaha Australia pernah menekankan agar melibatkan pikiran dan hati orang lain untuk memotivasinya.
Pikiran
Membiarkan orang lain mengungkapkan pendapatnya sendiri, juga bisa menjadi bagian dari sebuah penghargaan kepada yang bersangkutan. Sesalah apapun, dengarkan orang lain berbicara, mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Toh dengan itu sudah merupakan alat perangsang mereka untuk berpikir. Sementara otak manusia sendiri akan makin jalan bila selalu digunakan untuk berpikir. Jangan heran, makin rajin orang belajar, makin terasa tambah banyak hal yang tidak diketahui karena makin banyak yang diketahui.
Sebuah aksi yang dimotori oleh pikiran sendiri, jauh lebih enteng dilaksanakan dibanding hasil pemikiran orang lain. Bila hasil sebuah aksi dari pemikiran sendiri itu ternyata negatif, tentu akan lebih mengundang tanda tanya. Akibatnya akan semakin termotivasi untuk berpikir, lalu termotivasi untuk mengimplementasikan hasil pikiran. Demikianlah seterusnya, membentuk sebuah lingkaran positif.
Bilamana hasil pemikiran yang bersangkutan ternyata tepat sesuai harapan, akan lebih meyakinkan kemampuan diri sendiri. Hal ini juga bisa berfungsi sebagai katalis untuk memacu otak untuk berpikir kembali, menghasilkan ide-ide baru.
Hati
Ucapan terima kasih seorang atasan terhadap hasil kerja seorang bawahan, merupakan salah satu unsur pelibatan hati. Dan ini juga sangat penting. Bahkan ujung-ujung kepuasan itu sendiri, lebih kepada kepuasan bathin, dan bukan pada kepuasan lahir yang berwujud materi. Jadi, materi sendiri hanya sebagai alat.
Hanya saja, justru unsur paling rumit dari sebuah usaha memotivasi ini, justru ada pada pelibatan hati. Karena gimana pun juga, tabiat orang itu berbeda-beda, sehingga penanganan tiap orang otomatis juga pasti berbeda.
Untuk melibatkan perasaan orang lain, Murdoch menyarankan agar menggunakan ide-ide produktif dan kegembiraan. Masih sedikit ngambang memang, tapi setidaknya pokok dari ide Murdoch ini mungkin bisa diiyakan oleh semua orang, memotivasi orang harus melibatkan pikiran dan hati.
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/44_930_2008_05
Komentar
Pak, terima kasih banyak atas semuanya :)
(rasa terima kasih ex-staff kepada ex-atasannya)
(rasa terima kasih ex-staff kepada ex-atasannya)