Anda disini : TOP >> Dunia Kerja >> Profesional
Profesional


Banyak sudah untaian kata-kata yang mendeskripsikan arti dari kata profesional itu sendiri. Semua itu dengan sudut pandangnya masing-masing.

Kecenderungan, pendefinisian itu mengacu kepada sebuah reward berwujud materi. Gampangnya, profesional sama dengan bayaran. Maka muncullah pemain sepakbola profesional dan semacamnya. Ada bargaining uang yang muncul sebagai bahan acuan utama yang dominan disitu.

Seorang pemain sepakbola di liga profesional Jepang, J-League menjawab arti dari kata profesional itu, "Pro towa jibunno genkai wo tsukuranai". Artinya kurang lebih, "Profesional adalah, tidak membuat batas akhir dari kemampuan sendiri". Maksudnya, tidak membuat kemampuan sendiri mentok di suatu tempat.

Intinya, tidak pernah berhenti meng-improvisasi diri. Sungguh sangat relevan dengan ungkapan "belajarlah dari ayunan sampai ke liang lahat". Bahwa memperbaiki diri tidak mengenal waktu dan ruang, haruslah selalu ditanamkan dalam jiwa.

Seorang rekan mengatakan, "tsuneni, tanin ga yatteiru ijou wo suru". Rekan ini selalu mendengung-dengungkan, untuk selalu berbuat melebihi yang dilakukan oleh orang lain, tiada nilai plus dari sebuah usaha yang juga bisa dilakukan oleh orang lain. "Semua orang bisa melakukan hal yang biasa dilakukan oleh orang lain, dan itu tidak akan mengantarkan anda kepada kemajuan", ujarnya.

Rekan ini mengatakan hal yang memang dia sendiri laksanakan. Keingin-tahuannya terhadap sesuatu membuat beliau bahkan sanggup melahap buku-buku tebal dalam berbagai bidang keilmuan 100 buah hanya dalam kurung waktu 3 bulan. Hasilnya, memang ada bidang-bidang tertentu yang justru bukan background-nya, bahkan lebih dalam pengetahuannya dari orang yg ber-background sama. Dan yang pasti, hal membaca-nya itu dilakukan di sela-sela kesibukan kerjanya yang tergolong padat.

Puas dengan apa yang sudah umum diketahui oleh orang lain, memang sangat jauh dari definisi profesional di atas. Apalagi misalnya, sudah jelas golongan paling fakir ilmu di antara teman sejawat, masih saja pasrah tanpa usaha keras untuk minimal mengejar ketertinggalan itu. Type orang seperti ini, memang lebih pantas jadi buruh pabrik, sebuah pekerjaan yang tidak membutuhkan improvisasi diri, selain menghapal apa-apa yang menjadi tugas untuk dilakukan, memasang sekrup misalnya. Hal semacam ini, sudah pasti semua orang akan bisa tanpa perlu belajar. Dengan kata lain, setelah beberapa kali terjun langsung melakukan task tersebut sudah akan bisa ter-handle, terlepas ada niat belajar atau tidak, otomatis akan jadi terbiasa dan tau dengan sendirinya.

Untuk menjadi profesional, spirit harus ikut mendukung. Kemauan keras untuk maju sangat dibutuhkan. Tanpa itu, tidak mungkin bisa meraih perbaikan, karena toh orang lain juga sudah melakukan hal yang sama. Demikian sang rekan menjelaskan. Adapun hasil akhir yang berupa materi, hanyalah buah dari ke-profesional-an itu sendiri.

Jadi, profesional bukanlah bayaran itu sendiri, melainkan sebuah kesiapan untuk improvisasi diri, dan itu bukan sebatas pada derajat yang sudah dilakukan oleh orang lain. Dan tanpa jiwa profesional, bersiaplah untuk dilindas oleh kejamnya persaingan hidup. Bagaimana menurut anda?


Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/44_953_2008_05

Komentar
Tulis Komentar Anda disini

Judul

Nama Anda

Website




Masukkan kode verifikasi