Anda disini : TOP >> Politik & Ekonomi >> Kalau Tau Diri, Silakan Mundur!
Kalau Tau Diri, Silakan Mundur!

Kepala negara yang mengundurkan diri secara baik-baik, hampir tidak ada dalam kamus kepemimpinan negeri ini. Bagaimana pun hasil perkembangan negara selama memimpin, kalo masih bisa dilanjutkan, orang kita cenderung tetap ngotot mau duduk di kursi RI 1. Bahkan kalo perlu, memaksakan produk hukum yang bisa melegalkan presiden seumur hidup, seperti yang dilakukan oleh presiden Sukarno. Padahal, dimana pun di dunia, sudah terlihat jelas bahwa kepemimpinan yang berkepanjangan sangat cenderung mengarah kepada pemerintahan yang korup.

Lain Indonesia, lain juga dengan situasi kepemimpinan negeri sakura. Setelah Koizumi meninggalkan kursi perdana menteri dua tahun yang lalu, maka muncullah Shinzo Abe menggantikannya. Politisi Partai Demokrat Liberal(LDP) yang tergolong muda ini, nekat menerima estafet kursi panas dari Koizumi. Kehalusan tutur katanya, mampu mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan, terutama kalangan wanita.

Kursi sebagai pemimpin negara di negeri itu ternyata jauh beda dengan yang ada di Indonesia. Kalau di Indonesia, duduk di RI satu sangat identik dengan perbaikan status sosial terutama dari segi ekonomi, sampai orang-orang yang masih termasuk ring satu dari sang presiden. Komisi hasil penjualan super murah sebuah aset bangsa saja, bisa jadi tidak akan habis dimakan secara normal sampai 7 turunan. Belum lagi kalau segala proyek strategis negara mau dicaplok semua, yakin dalam rentang waktu yang sangat singkat bisa menjadi orang terkaya di seantero negeri.

Sementara kursi itu, tidak ada ubahnya sebuah kursi panas, di negeri matahari terbit sana. Dan Shinzo Abe sudah pernah mengalaminya. Dan hanya berselang satu tahun, beliau sudah tidak mampu menahan kepanasan kursi tersebut. Tidak ada lagi pilihan lain buat Abe selain, "Mengundurkan Diri". Pengalamannya dalam berpolitik ternyata tidak cukup untuk mendudukkan beliau lama-lama sebagai perdana menteri.

Setelah Abe merasa tidak mampu mengurus negeri itu, kalangan politisi LDP pun jadi pusing, siapa yang akan menggantikannya. Setelah digodok dengan berbagai pertimbangan yang serba matang, maka disepakatilah Yasuo Fukuda sebagai gantinya. Disamping usianya yang memang sudah termasuk senior di partai, diyakini Fukuda sebagai seorang yang diplomatis yang menggunakan politik konsensual paling memungkinkan untuk rela menerima kursi panas itu.

Banyak pengamat yang berpendapat bahwa, Fukuda yang juga putra mantan perdana menteri Takeo Fukuda itu, sebetulnya tidak begitu berambisi menjadi perdana menteri. Partai lah yang mendesaknya.

Tapi ternyata, kematangan seorang Fukuda lagi-lagi tidak sanggup mengurus negeri itu. Krisis dana pensiun, menjadi salah satu masalah yang tidak mampu beliau selesaikan. Pengalamannya sebagai seorang eksekutif di sebuah perusahaan minyak, juga tidak sanggup membuatnya bertahan. Akhirnya, kemarin tanggal 1 September, Fukuda mengumumkan angkat koper dari rumah jabatan perdana menteri. Fukuda pun menyerah sebelum cukup satu tahun bermain-main dengan kursi panas itu.

Menjadi pimpinan, wewenang memang berlimpah. Namun dibalik itu, secara otomatis, terikut juga yang namanya tanggungjawab. Begitulah seyogyanya, semuanya serba seimbang. Abe dan Fukuda adalah salah seorang yang merasa tidak mampu mengemban tanggungjawab itu, makanya tanpa desakan berarti, beliau-beliau itu secara sadar, lengser ke prambon.

Negara kaya seperti itu saja, ngurusnya susah minta ampun, apalagi Indonesia yang segalanya masih serba amburadul. Tiada kebayang betapa susahnya ngurus negeri, bila memang itu dilandasi oleh rasa tanggungjawab yang sepatutnya. Yang menjadi kelihatan gampang, karena yang nampak dan gemar dilakoni, merengkuh segala wewenang dan peluang yang ada, terlepas itu haq apa bathil. Pertanggungjawabannya, tinggal kong kalikong, semua jadi beres.

Makanya, yang sudah pernah dan gagal saja masih ngotot mau kembali duduk di kursi tersebut. Yang belum pernah, tentu tidak pernah kehilangan mimpi untuk juga duduk di atas singgasana tersebut. Masalahnya mampu apa tidak? Harusnya semua introspeksi diri, mampu apa tidak. Kalau tidak(apalagi yang dah terbukti tidak mampu), sepertinya tidak perlu kembali latah untuk berlari mengejar kursi panas itu. Kalau tau diri, silakan mundur!

Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/44_1111_2008_09

Komentar
Tulis Komentar Anda disini

Judul

Nama Anda

Website




Masukkan kode verifikasi