Semua Ada Batas Kewajaran
08 10 2008
11 : 15
Kemarin ada teman yang mencak-mencak ngadu sama saya. "Busyet....., aku gak dihargai banget", demikian penutup keluh kesah-nya. Dibombardir pernyataan kekecewaan yang mengalir kek air bah seperti itu, saya yang tidak tahu menahu duduk permasalahan langsung bingung, tidak bisa ngomong apa-apa. Dan usut punya usut, ternyata ini teman baru saja berdiskusi sama orang yang mau menerimanya bekerja di tempatnya.
Ternyata, sang teman ini ditawari gaji sama orang yang memang kenalan lamanya itu 2jt, dengan tanggungjawab yang bisa dibilang sangat berat. "Gaji terakhirku aja 8 juta....", protesnya. Memang dari segi kebebasan penggunaan waktu dia diberi kelonggaran, tapi setidaknya tanggungjawab tetap tidak beda dengan yang tidak diberi keringanan waktu kerja. "Sadis.....", ujarnya menggerutu sambil menarik nafas dalam-dalam tanda kekecewaan yang sangat dalam. Sementara, aku hanya bisa duduk mendengarkan sambil sesekali tersenyum.
Setelah kucuran kata-katanya dah reda, aku teringat dan memulai berbicara sebuah cerita yang pernah sempat aku baca beberapa saat yang lalu. Ada seorang pencari kerja, sebut saja namanya A melamar pekerjaan di PT. XX. Tibalah saat si A diwawancarai oleh B, manager personalia PT. XX. Inti alur diskusi dalam wawancara itu kurang lebih sebagai berikut.
.....
B: Silakan mengajukan hal-hal yang anda harapkan dari perusahaan bila diterima.
A: Saya mengharapkan gaji 12 juta rupiah perbulan
B: (sambil sedikit terkejut), Yang lain?
A: Disiapkan perumahan untuk karyawan, karena saya tidak punya rumah dan sanak sodara di daerah ini
B: Yang lain? (sambil tersenyum)
A: Antar jemput dari rumah ke kantor tiap hari
B: Masih ada?
A: Kalau bisa, fasilitas asuransi kesehatan dan lainnya ditanggung oleh perusahaan
B: Ada lagi? Silakan!
A: Itu saja Pak. Karena saya juga belum pernah berkontribusi buat perusahaan.
B: OK...(sambil berpikir sebentar)
B: Sdr. A, sebetulnya kami menyiapkan gaji 15 juta perbulan untuk anda
A: Terima kasih Pak (dengan muka berseri-seri)
B: Dan Kami juga menyiapkan rumah dinas di Pondok Indah buat anda, lengkap dengan mobil sedan altis baru sebagai kendaraan operasional yang akan anda pakai tiap hari
A: Terima kasih. Saya baru tau kalau perusahaan ini betul-betul menghormati karyawannya. (senyum kepuasan tada henti-hentinya terkulum)
B: Bukan cuman sebatas itu loh Sdr. A.
A: Apalagi pak? (sedikit kaget atas 'kebaikan' PT XX)
B: Segala jenis asuransi ditanggung oleh perusahaan, dan tiap tahun diberi kesempatan wisata gratis ke Bali selama 1 minggu memakai fasilitas paling lux. (sambil tersenyum-senyum)
A: Akh... Bapak jangan becanda dong. (sedikit mulai curiga ada yang tdk beres)
A mulai ketawa, dan dijawab oleh B dengan ketawa yang meledak-ledak. Suasana penuh dengan gelak tawa yang bersahut-sahutan.
B: Abiiiissss..., Ente duluan yang becanda sih.
Dalam kamus si Manager HRD, gaji standar SDM sekelas A itu ekitar 2 sampai 3 juta-an, tapi si A sendiri mintanya 10 juta. Itu menurut B, tidak lebih dari sebuah candaan dan tidak lebih.
Segala unsur hidup kalau dipetakan kedalam angka-angka pun, semua ada batas kewajaran. Sebuah daerah toleransi yang masih bisa diterima nalar. Standar gaji 2 sampai 3 jutaan, mengajukan ekspektasi 5 juta-an masih mungkin masih masuk daerah toleransi tersebut, Namun bila sudah latah memasang harga 10 juta, itu sudah melampaui batas kewajaran atau bahasa kasarnya, tidak tau diri.
Demikian juga sebaliknya, bahwa apa yang dialami oleh teman tersebut, juga jauh dari batas kewajaran tersebut. Dan itu yang membuat harga diri teman seolah-olah diinjak-injak yang ujung-ujungnya termuntahkan lewat keluh kesah yang dimuncratkan kepadaku.
Disitulah pentingnya mempelajari nilai diri yang sebenarnya. Dan bila berhubungan dengan orang lain, minimal mengetahui batas-batas kewajaran yang seharusnya, karena memang tidak ada nilai yang absolut. Tanpa itu, kita banyakan hanya membual, menertawakan diri sendiri lewat candaan-candaan yang cukup membuat wajah sendiri memerah.:)
Ternyata, sang teman ini ditawari gaji sama orang yang memang kenalan lamanya itu 2jt, dengan tanggungjawab yang bisa dibilang sangat berat. "Gaji terakhirku aja 8 juta....", protesnya. Memang dari segi kebebasan penggunaan waktu dia diberi kelonggaran, tapi setidaknya tanggungjawab tetap tidak beda dengan yang tidak diberi keringanan waktu kerja. "Sadis.....", ujarnya menggerutu sambil menarik nafas dalam-dalam tanda kekecewaan yang sangat dalam. Sementara, aku hanya bisa duduk mendengarkan sambil sesekali tersenyum.
Setelah kucuran kata-katanya dah reda, aku teringat dan memulai berbicara sebuah cerita yang pernah sempat aku baca beberapa saat yang lalu. Ada seorang pencari kerja, sebut saja namanya A melamar pekerjaan di PT. XX. Tibalah saat si A diwawancarai oleh B, manager personalia PT. XX. Inti alur diskusi dalam wawancara itu kurang lebih sebagai berikut.
.....
B: Silakan mengajukan hal-hal yang anda harapkan dari perusahaan bila diterima.
A: Saya mengharapkan gaji 12 juta rupiah perbulan
B: (sambil sedikit terkejut), Yang lain?
A: Disiapkan perumahan untuk karyawan, karena saya tidak punya rumah dan sanak sodara di daerah ini
B: Yang lain? (sambil tersenyum)
A: Antar jemput dari rumah ke kantor tiap hari
B: Masih ada?
A: Kalau bisa, fasilitas asuransi kesehatan dan lainnya ditanggung oleh perusahaan
B: Ada lagi? Silakan!
A: Itu saja Pak. Karena saya juga belum pernah berkontribusi buat perusahaan.
B: OK...(sambil berpikir sebentar)
B: Sdr. A, sebetulnya kami menyiapkan gaji 15 juta perbulan untuk anda
A: Terima kasih Pak (dengan muka berseri-seri)
B: Dan Kami juga menyiapkan rumah dinas di Pondok Indah buat anda, lengkap dengan mobil sedan altis baru sebagai kendaraan operasional yang akan anda pakai tiap hari
A: Terima kasih. Saya baru tau kalau perusahaan ini betul-betul menghormati karyawannya. (senyum kepuasan tada henti-hentinya terkulum)
B: Bukan cuman sebatas itu loh Sdr. A.
A: Apalagi pak? (sedikit kaget atas 'kebaikan' PT XX)
B: Segala jenis asuransi ditanggung oleh perusahaan, dan tiap tahun diberi kesempatan wisata gratis ke Bali selama 1 minggu memakai fasilitas paling lux. (sambil tersenyum-senyum)
A: Akh... Bapak jangan becanda dong. (sedikit mulai curiga ada yang tdk beres)
A mulai ketawa, dan dijawab oleh B dengan ketawa yang meledak-ledak. Suasana penuh dengan gelak tawa yang bersahut-sahutan.
B: Abiiiissss..., Ente duluan yang becanda sih.
Dalam kamus si Manager HRD, gaji standar SDM sekelas A itu ekitar 2 sampai 3 juta-an, tapi si A sendiri mintanya 10 juta. Itu menurut B, tidak lebih dari sebuah candaan dan tidak lebih.
Segala unsur hidup kalau dipetakan kedalam angka-angka pun, semua ada batas kewajaran. Sebuah daerah toleransi yang masih bisa diterima nalar. Standar gaji 2 sampai 3 jutaan, mengajukan ekspektasi 5 juta-an masih mungkin masih masuk daerah toleransi tersebut, Namun bila sudah latah memasang harga 10 juta, itu sudah melampaui batas kewajaran atau bahasa kasarnya, tidak tau diri.
Demikian juga sebaliknya, bahwa apa yang dialami oleh teman tersebut, juga jauh dari batas kewajaran tersebut. Dan itu yang membuat harga diri teman seolah-olah diinjak-injak yang ujung-ujungnya termuntahkan lewat keluh kesah yang dimuncratkan kepadaku.
Disitulah pentingnya mempelajari nilai diri yang sebenarnya. Dan bila berhubungan dengan orang lain, minimal mengetahui batas-batas kewajaran yang seharusnya, karena memang tidak ada nilai yang absolut. Tanpa itu, kita banyakan hanya membual, menertawakan diri sendiri lewat candaan-candaan yang cukup membuat wajah sendiri memerah.:)
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/44_1161_2008_10
Komentar