Hasrat, Bukan Sekedar Ingin
11 10 2008
18 : 28
Untuk mencapai suatu tujuan, kadang keinginan saja tidak cukup. Ada yang lebih sesuatu yang sangat ampuh lebih dari sekedar keinginan. Dengan bermodal 'sesuatu' itu, baru dada bisa berbusung sembari berujar, tidak ada yang tidak mungkin.
Saya selalu teringat 'pesan` seorang teman, "Ningenha juatsude kanouni suru", yang kurang lebih bermakna, "Dalam tekanan yang amat sangat, manusia pasti bisa". 'tekanan' disini, saya identikkan dengan salah satu pendorong 'sesuatu' itu. Dan 'sesuatu' itu disini saya sebut hasrat, walau sebetulnya istilah itu juga tidak persis mewakili 'sesuatu' itu sendiri. Dalam kamus KBBI, hasrat diartikan sebagai sebuah keinginan(harapan) yang kuat. Artinya, kalau memakai istilah hasrat itu sendiri, maknanya kelihatan tetap merupakan bagian dari keinginan itu sendiri, sementara saya menganggap hasrat bukan sekedar keinginan.
Di sebuah kesempatan, saya ikut terlibat sebagai anggota di suatu proyek yang ditangani perusahaan tempat saya bekerja saat itu. Client yang pekerjaannya ditangani dalam proyek itu adalah client besar yang selama ini kerjasamanya sudah menghasilkan nominal ratusan milyar rupiah. Client tersebut bagi perusahaan tempat saya bekerja termasuk salah satu client kelas VIP, yang proyek-proyeknya harus ditangani dengan ekstra hati-hati, jangan sampai membuat mereka kecewa, yang ujung-ujungnya bisa berakibat fatal. terputusnya hubungan kerjasama yang telah terjalin lama.
Saat itulah, saya pertama kali mendapatkan pengalaman menghadapi tekanan yang teramat sangat berat. Deadline tinggal semingguan, sementara beban pekerjaan yang saya emban, masih menyisakan satu task yang skill saya masih tergolong buta dari sisi teknikal. Terbayang rentetan akibat yang akan sangat fatal buat perusahaan, bila saja proyek itu gagal gara-gara task yang saya pegang tidak bisa memenuhi target waktu yang telah ditentukan. Kerugian secara tidak langsung pasti bukan sebatas dalam bilangan milyaran, akan jauh lebih dari nominal itu. Sementara tehnik yang saya belum kuasai itu, dalam keadaan normal, tidak akan bisa saya kuasai kurang dari satu bulan.
Stress positif akibat beban ini membuat saya susah tidur. Kadang bisa terlelap, giliran mimpi buruk akan kegagalan proyek tersebut yang datang mengusik. Praktis saya jadi jarang bisa pulang ke rumah, banyakan mencuri waktu sedikit beristirahat di ruang meeting kantor setelah sholat subuh. Tatkala orang-orang kantor mulai berdatangan, secara otomatis saya akan kembali terbangun.
Raut wajah atasan yang mengepreksikan antara kekhawatiran dan kemarahan, selalu menghiasi meeting rutin setiap pagi. Tapi sayapun tidak pernah berani mengambil langkah menaikkan bendera putih tanda menyerah.
Alhasil, deadline bisa terpenuhi walau dengan waktu yang sudah sangat mepet. Keberhasilan proyek tersebut dirayakan di sebuah restoran kelas wahid oleh seluruh member proyek yang berjumlah sekitar 25 orang. Dan tatkala sang atasan mengungkapkan rasa kekhawatirannya terutama terhadap task yang saya tangani, sambil tersenyum puas menepuk pundak saya, secara tidak sadar otoko namida(=Airmata lelaki), keluar dari mata ini. Dari situ saya kembali diyakinkan akan kebenaran pesan teman tersebut di atas.
Apa yang mendorong saya seakan berkonsentrasi 150% itu, tak lain karena apa yang untuk sementara saya istilahkan hasrat tersebut. Adrenaline seakan muncul memacu jiwa dan raga secara total, sehingga hal yang sebetulnya tidak mungkin itu berubah wujud jadi mungkin. Hasrat yang membuat sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa.
Intinya, bila anda menghadapi rintangan yang sangat berat, yakinlah bahwa itu bisa terselesaikan. Bukankah juga ada pepatah bijak yang mengatakan, dimana ada kemauan disitu ada jalan? Namun kalau mau lebih detail, ubah kata kemauan(keinginan) tersebut menjadi hasrat. Apalagi orang lain ada yang bisa, kenapa anda tidak bisa? Yakinlah, pasti anda juga bisa, asal kalau diperlukan, anda mau mengubah dari sekedar keinginan menjadi hasrat. Yakinlah!
Saya selalu teringat 'pesan` seorang teman, "Ningenha juatsude kanouni suru", yang kurang lebih bermakna, "Dalam tekanan yang amat sangat, manusia pasti bisa". 'tekanan' disini, saya identikkan dengan salah satu pendorong 'sesuatu' itu. Dan 'sesuatu' itu disini saya sebut hasrat, walau sebetulnya istilah itu juga tidak persis mewakili 'sesuatu' itu sendiri. Dalam kamus KBBI, hasrat diartikan sebagai sebuah keinginan(harapan) yang kuat. Artinya, kalau memakai istilah hasrat itu sendiri, maknanya kelihatan tetap merupakan bagian dari keinginan itu sendiri, sementara saya menganggap hasrat bukan sekedar keinginan.
Di sebuah kesempatan, saya ikut terlibat sebagai anggota di suatu proyek yang ditangani perusahaan tempat saya bekerja saat itu. Client yang pekerjaannya ditangani dalam proyek itu adalah client besar yang selama ini kerjasamanya sudah menghasilkan nominal ratusan milyar rupiah. Client tersebut bagi perusahaan tempat saya bekerja termasuk salah satu client kelas VIP, yang proyek-proyeknya harus ditangani dengan ekstra hati-hati, jangan sampai membuat mereka kecewa, yang ujung-ujungnya bisa berakibat fatal. terputusnya hubungan kerjasama yang telah terjalin lama.
Saat itulah, saya pertama kali mendapatkan pengalaman menghadapi tekanan yang teramat sangat berat. Deadline tinggal semingguan, sementara beban pekerjaan yang saya emban, masih menyisakan satu task yang skill saya masih tergolong buta dari sisi teknikal. Terbayang rentetan akibat yang akan sangat fatal buat perusahaan, bila saja proyek itu gagal gara-gara task yang saya pegang tidak bisa memenuhi target waktu yang telah ditentukan. Kerugian secara tidak langsung pasti bukan sebatas dalam bilangan milyaran, akan jauh lebih dari nominal itu. Sementara tehnik yang saya belum kuasai itu, dalam keadaan normal, tidak akan bisa saya kuasai kurang dari satu bulan.
Stress positif akibat beban ini membuat saya susah tidur. Kadang bisa terlelap, giliran mimpi buruk akan kegagalan proyek tersebut yang datang mengusik. Praktis saya jadi jarang bisa pulang ke rumah, banyakan mencuri waktu sedikit beristirahat di ruang meeting kantor setelah sholat subuh. Tatkala orang-orang kantor mulai berdatangan, secara otomatis saya akan kembali terbangun.
Raut wajah atasan yang mengepreksikan antara kekhawatiran dan kemarahan, selalu menghiasi meeting rutin setiap pagi. Tapi sayapun tidak pernah berani mengambil langkah menaikkan bendera putih tanda menyerah.
Alhasil, deadline bisa terpenuhi walau dengan waktu yang sudah sangat mepet. Keberhasilan proyek tersebut dirayakan di sebuah restoran kelas wahid oleh seluruh member proyek yang berjumlah sekitar 25 orang. Dan tatkala sang atasan mengungkapkan rasa kekhawatirannya terutama terhadap task yang saya tangani, sambil tersenyum puas menepuk pundak saya, secara tidak sadar otoko namida(=Airmata lelaki), keluar dari mata ini. Dari situ saya kembali diyakinkan akan kebenaran pesan teman tersebut di atas.
Apa yang mendorong saya seakan berkonsentrasi 150% itu, tak lain karena apa yang untuk sementara saya istilahkan hasrat tersebut. Adrenaline seakan muncul memacu jiwa dan raga secara total, sehingga hal yang sebetulnya tidak mungkin itu berubah wujud jadi mungkin. Hasrat yang membuat sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa.
Intinya, bila anda menghadapi rintangan yang sangat berat, yakinlah bahwa itu bisa terselesaikan. Bukankah juga ada pepatah bijak yang mengatakan, dimana ada kemauan disitu ada jalan? Namun kalau mau lebih detail, ubah kata kemauan(keinginan) tersebut menjadi hasrat. Apalagi orang lain ada yang bisa, kenapa anda tidak bisa? Yakinlah, pasti anda juga bisa, asal kalau diperlukan, anda mau mengubah dari sekedar keinginan menjadi hasrat. Yakinlah!
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/44_1166_2008_10
Komentar
Re: Hasrat, Bukan Sekedar Ingin
Oleh sha ( 14 Oktober 2008 08:52:57 )
Oleh sha ( 14 Oktober 2008 08:52:57 )
Assalamualaikum,
Jd inget bbrapa hr yg lalu biz nntn tv (Mario Teguh), kekuatan pemacu sukses ktika kita mempunyai 1.impian, 2. cita2, 3. rencana, 4. harapan.
Jd inget bbrapa hr yg lalu biz nntn tv (Mario Teguh), kekuatan pemacu sukses ktika kita mempunyai 1.impian, 2. cita2, 3. rencana, 4. harapan.
Kalo rekan jakarta(Mario Teguh) mah, komplit. Maklum beliau profesional. AF mah, apa yg af pikirkan, rasakan aja. Makasih!